Pendakian Yang Di Selimuti Oleh Kabut

“Malam sudah hampir larut dan langit pun mulai menangis, setelah makan bersama semua tim istirahat di dalam tenda yang telah dibuat dan menjaga stamina untuk esok hari sebelum melakukan perjalanan ke puncak.”

 

Tim Orientasi Umum Gunung Hutan Anggota Muda Eks Diklatsar 42 IMPALA UB

Sebagai salah satu bentuk penggenalan dasar anggota baru IMPALA UB, Anggota Muda Eks Diklatsar 42 diharuskan untuk melakukan beberapa rangkaian Orientasi Umum (ORTUM) dalam pengenalan 4 divisi yang terdapat di IMPALA. Setelah melakukan pengenalan di divisi Olahraga Arus deras (Orad) dan divisi Panjat Tebing (Rock Climbing), Pada 22-23 Desember lalu kami melakukan rangkaian ortum pada divisi Gunung Hutan atau yang sering disebut sebagai divisi mendaki gunung. Ortum Gunung Hutan dilakukan di Gunung Penanggungan Tamiajeng, Trawas, Mojokerto. Sebelum keluar lapang, kami telah mempelajari materi dasar tentang gunung hutan, salah satu diantaranya materi tentang Navigasi Darat sebagai salah satu bentuk pembekalan sebelum keluar lapang.

Pagi pun tiba dan suara alarm pun telah membangunkan kami sebelum memulai kegiatan, beberapa diantara kami melakukan sholat subuh berjamaah terlebih dahulu di Masjid Raden Patah UB dan berdoa untuk keselamatan pada saat melakukan kegiatan lapang nanti. Setelah itu, kami mempersiapkan dan memeriksa perlengkapan apa saja yang akan di bawa pada saat di lapangan. Seperti kegiatan yang telah berlangsung di IMPALA, sebelum berkegiatan dilakukannya pelepasan oleh Anggota dan ditutup dengan sebuah kata “BRAVO!!” oleh Bapak Ketua Umum IMPALA UB.

Perjalanan kami pun dimulai dengan mengunakan kendaraan sepeda motor, Selama perjalanan di pimpin oleh Rizky Wahyu dan Adit sebagai pengendara dan oleh Tyo dan Fano sebagai sweaper yang telah membawa kotak P3K sebagai bentuk pembekalan selama perjalanan. Pada saat sampai lokasi start point yang telah ditentukan sebelumnya, ternyata kami mengalami kejadian diluar dugaan yaitu kami salah dalam menentukan titik masuk pendakian, kemudian kami pun memutarkan arah dan menuju lokasi start point yang benar yaitu di daerah Tamiajeng, Trawas. Dalam perjalanan menuju Tamiajeng terdapat salah satu tim kami yang terjatuh pada saat jalan yang menanjak yaitu Bintang dan Fathia, hal ini disebabkan karena pengendara kurang menguasai medan. Dengan keadaan yang sedikit lecet pada bagian siku dan kaki, perjalanan pun dilanjutkan menuju lokasi.

Perjalanan tim  saat pendakian menuju puncak

Saat tiba di lokasi start point, tim pun langsung menuju pos perizinan. Sebelum memulai pendakian terdapat  briefing sebagai bentuk pembekalan dalam pendakian yang dilakukan oleh posko basecamp pendakian. Kami memulai perjalanan dari pos start hingga puncak bayangan dengan memakan waktu selama dua jam lamanya.

Suasana  puncak Penanggungan yang berkabut

Selama perjalanan dalam pendakian kami di selimuti oleh kabut cukup tebal yang membuat kita tidak dapat melakukan latihan Navigasi Darat (NAVDAR), yaitu ilmu yang mempelajari cara seseorang menentukan suatu tempat dan memberikan bayangan medan, baik keadaan permukaan serta bentang alam dari bumi dengan bantuan minimal peta dan kompas.

Kegiatan masak yang dilakukan tim untuk makan malam

Setelah sampai di pos bayangan, kami dibagi menjadi dua Tim, tim yang mendirikan tenda dan tim yang membuatkan makanan untuk makan malam. Matahari rupanya sudah malu untuk memancarkan sinarnya, hal itu menandakan malam sudah hampir tiba. Makan malam pun sudah siap untuk dimakan secara bersama, setelah itu di lanjut dengan forum evaluasi harian dan briefing untuk esok hari. Malam sudah hampir larut dan langit pun mulai menangis, setelah makan bersama semua tim istirahat di dalam tenda yang telah dibuat dan menjaga stamina untuk esok hari sebelum melakukan perjalanan ke puncak.

   

Mentari pagi menyambut hangatnya Penanggungan

Keesokan harinya mentari pun sudah ingin memunculkan cahayanya kami bangun dari tidur, selanjutnya dilakukan pembagian untuk masak untuk sarapan pagi, setelah sarapan pagi dilanjut dengan kegiatan latihan NAVDAR dengan materi Resection yaitu mencari titik lokasi keberadaan kita. Setelah latihan usai, kami mempersiapkan barang apa saja yang akan dibawa pada saat perjalan ke menuju puncak. Dengan perasaan yang menggebu dan penuh semangat, kami pun langsung berangkat tanpa menunggu lama untuk menunju puncak Penanggungan. Selama di perjalan menuju puncak kami di selimuti kabut yang cukup tebal senhingga menutupi jarak pandang pada saat naik. Sesampainya di puncak, kami pun istirahat serta tak lupa berfoto bersama sambal menikmati keindahan alam dari atas puncak Penanggungan. Mengingat waktu yang terbatas kami pun bersiap untuk turun menuju tempat beristirahat kami yang berada di puncak bayangan. Sesampainya di basecamp kami pun langsung mebersihkan tempat camp dan packing untuk melakukan perjalana turun dari pucak banyang hingga pos 1 dengan memakan waktu sekitar satu setengah jam.

Sampai di pos perizinan, tim bersiap untuk melakukan perjalanan pulang ke bravo tenda dengan perjalanan yang diguyur hujan dan jalan dalam kondisi pada merayap. Sesampainya di bravo tenda kami di sambut oleh anggota-anggota IMPALA UB yang telah menunggu kedatangan kami.

Dokumentasi tim saat berada di Puncak Gunung Penanggungan

Melihat keadaan sekitar pada saat melakukan pendakian kami pun sadar akan sangat kecilnya kita ini di bumi ini, kami di ajarkan agar lebih menghargai alam dan tidak boleh sombong dengan apa yang kita punya, syukuri kekayaan negri ini dan sepatutnya dijaga dengan baik untuk generasi kedepan agar dapat menikmati betapa indahnya Indonesia.


 

Dari keluar lapang Gunung Hutan ini penulis menyimpulkan ternyata terdapat tipe – tipe seseoran saat mendaki. Kira – kira apa saja yaa?

1. Pendaki jompo

Pendaki lemah di posisi kan di barisan depan lalu pada saat perjalanan ia tertinggal sampai ke barisan belakang lalu barisan depan menunggu ia untuk balik lagi ke posisi awal.

2. Pendaki SK

Pendaki yang tangguh dan selalu membantu team pad saat ada yang kesusahan atau membantu membawakan alat pribadinya.

3. Pendaki Kepala Batu

Pendaki yang satu ini nih kalau disuruh atau di kasih saran paling susah dan mau menang sendiri, jangan deh marah mulu kerjaan nya pendaki yang satu ini

4. Pendaki Otot Kawat Tulang Besi

Pendaki yang satu ini paling engga kenal capek dan maunya lanjut jalan terus semangat sama stamina ya sudah lumayan ia sanggup bantu bawain carrier rekan teamnya yang sakit.

Dari ke empat tipe – tipe pendaki yang udah disebutkan, jadi kamu termasuk tipe pendaki yang mana nih?? Apapun tipenya jangan lupa untuk selalu safety dalam setiap berkegiatan ya! Menjaga kebersihan dan kelestarian alam pun harus tetep jadi pedoman selalu.

 

Salam Lestari!

 

Penulis :          Septiyo Budi Perkasa (Anggota Muda)
Editor  :           Iska Anggraini (NIM.2018620/IMP)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *