Manajemen dalam Penelusuran Gua

Sebagian besar kegiatan alam bebas banyak dilakukan di alam terbuka, namun tidak demikian halnya dengan telusur gua, kegiatan ini justru dilakukan di dalam tanah. Keadaan seperti inilah yang menjadi daya tarik bagi seorang caver, sebutan untuk seorang penelusur gua. Petualangan di lorong gelap bawah tanah menghasilkan pengalaman tersendiri. Perasaan ingin tahu yang besar bercampur dengan perasaan cemas karena gelap total.

Anggota Muda 41 IMPALA UB saat berada di mulut gua

Telusur Gua atau Caving berasal dari kata ‘cave’ yang artinya Gua. Menurut Mc Clurg, cave atau Gua bearti ‘ruang alamiah di dalam bumi’, yang biasanya terdiri dari ruangan-ruangan dan lorong-lorong.

Aktivitas Caving diterjemahkan sebagai ‘aktivitas penelusuran gua’. Setiap aktivitas penelusuran gua, tidak lepas dari keadaan gelap total. Justru keadaan seperti inilah yang menjadi daya tarik bagi seorang caver, sebutan untuk seorang penelusur gua. Petualangan di lorong gelap bawah tanah menghasilkan pengalaman tersendiri. Perasaan ingin tahu yang besar bercampur dengan perasaan cemas karena gelap total. Dalam kegiatan penelusuran gua dikenal istilah ‘speleologi’, Speleologi Adalah ilmu yang mempelajari tentang gua alam dan lingkungannya. Kata speleologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Spelaion yang berarti Gua dan Logos yang berarti Ilmu. Ruang lingkup ilmu pengetahuan ini tidak hanya keadaan fisik alamaiahnya saja, tetapi juga potensinya; meliputi segi terbentuknya gua, bahan tambang, tata lingkungan, geologi gua, dan segi-segi alamiah lainnya.

Kalau sebagian orang merasa enggan untuk mendekati ‘lubang gelap mengangga’, maka para penelusur gua justru tertarik untuk masuk kedalamnya, hingga berkilo-kilometer jauhnya. Lubang sekecil apapun tak luput dari perhatiannya, jika perlu akan ditelusuri sampai tempat yang paling dalam sekalipun

 

Anggota Muda 41 IMPALA UB divis Caving pada Orientasi Lanjutan 4

Peralatan pribadi juga perlu diperhatikan seperti, set pribadi terdiri atas helm, seat harness, cowstail, pelampung (jika gua berair), peluit, safetyline, tali dynamic dan bellay device, pakaian yang digunakan menutup seluruh tubuh dan mudah kering atau pakaian yang tidak menyerap air. Wajib menggunakan sepatu, lebih baik sepatu boot. Menggunakan senter yang terang, sebisa mungkin menggunakan headlamp agar tangan dapat bergerak bebas.

Anggota Muda 41 IMPALA UB saat melakukan rigging di Gua

Tentu dalam melakukan penelusuran gua tidak dilakukan secara sembarangan, terdapat pembagian – pembagian sumber daya manusia (sdm) saat ingin melakukan penelusuran. Hal ini dapat dikatakan sebagai manajemen dalam penelusuran gua. yaitu suatu aturan atau langkah-langkah yang harus diikuti sebelum, dan dapat dilaksanakan selama dan sesudah kegiatan.

Pembagian sdm dibagi menjadi dua, yaitu tim yang masuk kedalam gua dan tim yang menjaga dimulut gua. Tim yang masuk kedalam gua terdiri atas; Pertama yaitu dengan adanya leader, bertugas sebagai rigging man dimana sebagai orang yang membuat jalur lintasan, bertanggungjawab atas semua anggotanya, memastikan lintasan aman dilewati semua anggota tim. Kedua assisten leader yaitu sebagai backup dari leader atau rigging man yang mengetahui segala yang dibutuhkan leader atau rigging man serta bertugas mengamankan leader. Ketiga sweeper yaitu bertugas untuk memastikan tidak terdapat anggota tim maupun peralatan yang tertinggal serta membawa makanan logistik ataupun obat – obatan yang diperlukan saat penelusuran. Dan keempat adalah anggota tim penelusuran yang membantu ketiga pembagian sdm tersebut.

Anggota Muda 41 IMPALA UB berkerjasama dalam membuat rigging

Sedangkan tim yang menjaga diluar gua atau mulut gua biasanya disebut sebagai entrace yaitu bertugas mengawasi dan mengabarkan keadaan cuaca yang tidak dapat diprediksikan yang terjadi di atas, serta orang yang pertama sebagai bentuk pertolongan pertama apabila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.

Sangat penting untuk dilakukannya pembagian sdm dalam kegiatan penelusuran gua, hal ini akan mempengaruhi keselamatan dan efisiensi waktu dalam penelusuran gua mengingat terdapat aturan, langkah, serta etika – etika yang perlu diperhatikan dalam kegiatan penelusuran gua. Hal ini mengetahui bahwa gua merupakan lingkungan yang sensitif dan mudah tercemar. Sehingga penelusur gua atau caver senantiasa mengingat etika dan moral terhadap lingkungan gua.

 

Penulis : Iska Anggraini (NIM.2018620/IMP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *