Laut Sebagai Mata Pencaharian Utama Masyarakat Pulau Sepanjang

Pulau Sepanjang mungkin masih terdengar asing di telinga kita. Hal ini dikarenakan banyaknya pulau-pulau di Indonesia. Untuk menuju pulau yang berada di perairan utara Pulau Bali ini, jarak yang harus ditempuh pun cukup melelahkan dan tranportasi yang dilalui hanya terdapat jalur laut dengan waktu tempuh kurang lebih 16 jam. Untuk yang belum pernah melakukan perjalanan melalui jalur laut dengan waktu yang lama harus siap sedia obat-obatan untuk jaga-jaga dikala mabuk laut.

Rumah panggung penduduk desa Tanjung Kiaok

 

Desa Tanjung Kiaok merupakan salah satu desa di Pulau Sepanjang dengan jumlah penduduk mencapai angka 3.000 jiwa dan dengan perekonomian yang terbilang sudah cukup mapan. Hasil laut yang melimpah membantu perekonomian masyarakat. Terlihat jelas pemukiman masyarakat yang sudah modern menandakan perekonomian masyarakat yang terbilang cukup baik.

Saya yang tergabung dengan Tim Brawijaya Sepanjang Island Research (IMPALA UB) selama 10 hari membaur dengan masyarakat pulau Sepanjang, menggali kisah dari kehidupan mereka dan ikut tinggal satu atap rumah pula. Terdapat banyak tempat tinggal yang berada di pesisir pantai, dan dapat menggambarkan mayoritas penduduk menggantungkan kehidupannya dari hasil laut. Masyarakat di sana sangat meksimalkan hasil laut mereka. Hasil tangkapan masyarakat cukup beragam, mulai dari ikan, udang, kerang,  lobster dan juga membudidayakan rumput laut. Omsetnya pun cukup besar, masyarakat Tanjung Kiaok memasarkan hasil tangkapannya ke pulau-pulau terdekatnya seperi ke Bali, Banyuwangi, Kalimantan bahkan hingga ekspor ke luar negeri.

Foto tim dengan anak-anak masyarakat pulau Sepanjang

 

Untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari tentu bukan hal sulit untuk dilakukan.  Tetapi ketersediaan bahan-bahan pokok tersebut sulit untuk didapatkan di pulau ini, sehingga masyarakat harus memenuhinya dengan membelinya dari Banyuwangi ataupun Pulau Sapeken yang merupakan kecamatan dari Pulau Sepanjang. Perjalanan yang jauh dan ongkos yang mahal membuat harga bahan pokok di pulau ini tergolong tinggi jika dibandingkan dengan di Jawa.

Masyarakat Tanjung Kiaok juga mempunyai usaha lain apabila hasil laut tidak dapat mencukupi kebutuhan. Ada yang membuka toko sembako, berjualan makanan ataupun minuman, sebagai buruh atau bekerja dengan orang lain dan masih banyak lainnya. Selain itu untuk menghindari paceklik, masyarakat juga mengolah hasil laut yang bisa bertahan lama, seperti ikan asin atau ikan yang dikeringkan.

Rumput laut juga merupakan salah satu sumber mata pencaharian di Desa Tanjung Kiaok, Penduduk Tanjung Kiaok melakukan panen rumput Laut setiap satu bulan setelah tanam. Dalam satu kali panen biasanya didapatkan hasil sekitar 2-3 ton untuk sekitar 400-500 meter tali gantung. Harga jual rumput laut per kilogramnya dibandrol sekitar 2.000 – 3.000 rupiah untuk rumput laut basah, sedangkan untuk rumput laut kering sekitar 6.000 – 8.000 rupiah.

Pembudidayaan rumput laut di desa Tanjung Kiaok dilakukan di laut lepas yang terletak ± 100 meter dari bibir pantai. Penanaman rumput laut di desa ini menggunakan metode tali gantung, dimana tali panjang yang dibentangkan akan dikaitkan pada pasak yang ditancapkan ke dasar lautan yang dangkal. Metode ini digunakan oleh masyarakat karena alat dan bahan yang dibutuhkan lebih tahan lama dan mudah untuk didapat.

Petani rumput laut desa Tanjung Kiaok

Desa Tanjung Kiaok yang berada di pesisir kepulauan membuat desa ini mempunyai banyak pantai yang belum dinamai ataupun belum dikenal oleh banyak orang. Salah satu pantai yang sedang dikembangkan saat ini adalah Pantai Same. Dengan adanya pantai ini memberikan peluang adanya lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar. Hal ini terlihat dengan banyaknya warung-warung disepanjang jalan menuju pantai, menandakan antusias masyarakat dalam mengembangakan perekonomian.

Masyarakat desa Tanjung Kiaok sangat mengandalkan hasil laut untuk kehidupamn sehari-harinya, Mulai dari makan, penghasilan, bahkan hingga transportasi. Laut sangat berjasa bagi masyarakat desa Tanjung Kiaok.

 

Penulis : Aniendya Mentari (Anggota Muda IMPALA UB)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *