BRAWIJAYA SEPANJANG ISLAND RESEARCH : Merajut Kisah Sebuah Pulau di Ujung Jawa Timur

Pulau Sepanjang mungkin masih terdengar asing di telinga kita. Hal ini dikarenakan banyaknya pulau-pulau di Indonesia. Untuk menuju pulau yang berada di perairan utara Pulau Bali ini, jarak yang harus ditempuh pun cukup melelahkan dan tranportasi yang dilalui hanya terdapat jalur laut dengan waktu tempuh kurang lebih 16 jam. Untuk yang belum pernah melakukan perjalanan melalui jalur laut dengan waktu yang lama harus siap sedia obat-obatan untuk jaga-jaga dikala mabuk laut.

Tim Brawijaya Sepanjang Island Research menaiki kapal Sumekar di perairan Kalianget

Tim yang tergabung dalam Brawijaya Sepanjang Island Research berangkat berjumlah 14 orang pada hari Minggu tanggal 15 Juli 2018. Selama 10 hari mereka membaur dengan masyarakat pulau, menggali kisah dari kehidupan mereka. Perasaan lega ketika tim tiba di pelabuhan yang di hiasi pemandangan pantai nan indah dan kapal-kapal nelayan yang sedang berlabuh, lalu sambutan hangat dari senyuman masyarakat disana.

Penduduk dari Pulau Sepanjang ini berjumlah relatif banyak dari dua desa utama yang terpisah yaitu Desa Sepanjang itu sendiri, dan Desa Tanjung Kiaok yang berada di ujung Timur pulau, adapun desa yang masih berstatus perintis adalah Desa Mandar Pelat. Keragaman suku terdapat di pulau ini diantaranya Suku Bajo sebagai suku pendatang asli pulau, Suku Mandar, dan Suku Madura, meskipun berbeda asal usul masyarakat pulau ini sangatlah menjunjung tinggi persatuan dari setiap suku yang ada.

Foto tim dengan anak-anak masyarakat pulau Sepanjang

Malam hari di pulau memang sangatlah indah, dengan taburan bintang di temani cahaya rembulan, namun bisa menjadi hal yang menakutkan ketika tidak ada penerangan yang cukup di setiap jalan dan rumah. Itulah yang dirasakan masyarakat di Pulau Sepanjang ini, mereka hidup bertahun-tahun dalam kegelapan pada akhirnya mereka bisa menggunakan genset dan panel surya untuk mendapatkan penerangan, tetapi semua itu ada keterbatasan ketika bahan bakar habis ataupun mesin yang rusak, terpaksa mereka tetap bermalam dengan kondisi yang gelap.

Pernah sempat PLN masuk ke Desa Sepanjang dan telah membangun tiang di sepanjang jalan, namun tidaklah dilanjutkan proyek tersebut dan hanya menyisakan tiang-tiang beton yang terlihat mulai roboh. Sinyal telpon di sini pun terbilang cukup sulit dimana untuk berkomunikasi mereka harus mengakalinya dengan membuat antena sinyal yang harus di dekatkan ke handphone.

“sangat sulit berpergian dimalam hari jika tidak naik kendaraan saat malam hari, kanan-kiri hutan dan rumah warga yang sangat jarang, hanya bermodal senter, dan susah untuk berkomunikasi jika berada diluar rumah karena handphone tidak ditempel ke antena” ujar Leo Krisna (Tim Pengembaraan).

Pulau yang identik dengan keindahan kebun kelapa yang melimpah menjadi ladang sesuap nasi masyarakat di Desa Sepanjang, mereka memetik kelapa yang kemudian dijual dalam bentuk buah kelapa tua dan dikirim ke Jawa, namun harga tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan mereka dan sekarang sedang mengalami jatuh harga hingga 100 rupiah per-butir. Mereka juga mengolah kelapa tersebut menjadi Kopra, yaitu kelapa yang dikeringkan untuk menjadi bahan dasar dari produksi minyak kelapa.

Surga kelapa dari pulau Sepanjang

Ketika harga kelapa jatuh dan musim panas masyarakat Desa Sepanjang menanam Biji Mente yang memiliki nilai ekonomis tinggi ketika dijual. Dari kelapa banyak sekali dimanfaatkan masyarakat salah satunya menjadi makanan tradisional khas Pulau Sepanjang yaitu Jepah yang berbahan dasar dari Kelapa dan Singkong, kemudian ada Kukus, dan Songkol.

setelah makan Jepah dicampur dengan minum air langsung mekar dalam perut, kenyang banget tapi bikin ketagihan karena rasanya gurih asin” ujar Audrey (tim pengembaraan).

Serunya kegiatan sosialisasi tim di SDN VI Sepanjang

Selain melakukan pendataan potensi Pulau Sepanjang, Tim Brawijaya Sepanjang Island Research juga melakukan bakti sosial di SDN VI Sepanjang. Disana tim mensosialisasikan tentang pengolahan sampah dan himbauan untuk menjaga lingkungan. Tim Brawijaya Sepanjang Island Research juga memberikan donasi berupa buku bacaan kepada perpustakaan SDN VI  Sepanjang yang memang baru dibangun. Tingkat literasi siswa dan siswi di desa tersebut sangat tinggi, terlihat ketika tim mendonasikan buku mereka langsung mengambil buku tersebut dan membacanya dengan perasaan bahagia, hal yang mungkin sangat jarang ditemukan di daerah perkotaan. Dengan harapan anak-anak di desa ini terutama murid di sekolah tersebut menjadi generasi yang cerdas dengan membaca.

Seluruh guru di SDN VI Sepanjang ini sangatlah berterima kasih kepada tim Brawijaya Sepanjang Island Research karena telah membagi ilmu dan keceriaan kepada anak-anak dan telah berkenan memilih sekolah ini untuk menerima donasi buku yang sangat bermanfaat ini.” Ucapan terima kasih dari guru SDN VI Sepanjang.

Suling sakti dari Tanjung Kiaok

 

Kesenian dari Suku Bajo dipulau ini adalah berupa tarian yang dinamakan tarian Bajo, biasa digunakan ketika ada acara didesa, seperti selamatan desa, syukuran, pernikahan, sunatan dan acara besar lainnya, dengan diiringi alunan musik gendang, gong, sresek dan suling, alat musik yang paling terkenal adalah sulingnya yang dinamakan Seronen hanya tersisa satu orang pemegangnya yaitu Pak Bahruan. Dengan berbahan dasar bambu, daun jontal namun sangatlah susah membuatnya unuk menemukan tone nada yang pas, suling ini pernah dilihat orang Perancis saat mereka datang ke desa tersebut dan mereka sangat terheran-heran ketik suling tersebut dimainkan bahkan mereka ingin membelinya dengan harga yang tinggi.

“sangat sulit untuk bisa memainkannya, orang yang jago main suling pun belum tentu bisa, karena seperti tidak bernafas ketika meniup suling ini, bukan dari menghapal nada, tetapi dengan perasaan ketika bermain sehingga bisa menghasilkan nafas panjang yang kuat” cerita dari Pak Bahruan.

Foto Tim Brawijaya Sepanjang Island Research (IMPALA UB)

Negara Indonesia merupakan negara kepualauan terbesar dan salah satunya adalah Pulau Sepanjang ini, bermacam suku dan budaya yang mendiami pulau ini menjadi keunikan tersendiri, dengan aktivitas masyarakat baik itu dari keseharian, hingga ekonomi mereka yang yang sangatlah sederhana. Betapa penuh pengaharapan mereka atas bantuan dari pemerintah untuk membantu memajukan pulau tersebut, menghidupkan penerangan di setiap desa, meningkatkan kondisi sekolah dan pendidikan yang sangat minim disana, membantu kegiatan perekonomian masyarakat, mengirim bantuan tenaga kesehatan, dan pelestarian kearifan lokal masyarakat yang ada disana. Meskipun pulau paling ujung di Jawa Timur, mereka tetap membutuhkan kehidupan yang lebih baik dari segi apapun, harapan mereka adalah kekuatan mereka untuk bertahan hingga masa yang akan datang.

 

Penulis : Rizeki Adika Kane (Anggota Muda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *