Pipanisasi Dari Mata Air Untuk Warga Desa Ngadiwono

Ketika kabut mulai terkuak dimana cahaya fajarpun mulai mewarnai langit, namun titik-titik embun masih bergelayut diujung dedaunan. Dinginnya malam yang masih terasa, meskipun perlahan-lahan pucuk pepohonan seakan bermunculan dari kegelapan di lembah-lembah perbukitan. Tak kalah suara burung mulai bersiulan dengan indahnya serta kabut dan udara yang menusuk tak membuat mereka untuk bermalasan tidur dan memutuskan untuk beraktivitas demi mencukupi ke butuhan sehari-hari.

 Catatan Anggota Muda IMPALA UB 41, Pagi itu di Pura Ngadiwono.

Jika mendengar kata Bromo, tidak akan bisa terlepas dari suku Tengger dan Semeru. Etnis Tengger merupakan etnis asli Bromo. Sementara itu, semeru merupakan gunung api tertinggi di pulau Jawa. Komunitas penduduk ini menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang. Salah satunya yaitu Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Kain sarung yang selalu dililitkan dileher serta kupluk yang menjadi penutup kepala dimana merupakan hasil adaptasi dari suhu Gunung Bromo yang begitu dingin menjadikan ciri khas dari suku Tengger, tak menyurutkan semangat masyarakat Ngadiwono untuk beraktivitas dipagi hari.

Pukul 06.25, Warga Desa Ngadiwono mulai beraktifitas seperti biasanya. Dari mulai mengantarkan hasil panen kepada pengepul untuk dijual ke pasar, mempersiapkan diri untuk pergi ke ladang, ataupun bergegas ke titik-titik air untuk mencuci dan mengambil air melalui jerigen-jerigen yang dipikul menggunakan tongkat bambu. Dengan arsitektur khas pegunungan, tanah yang tidak rata menciptakan pola pemukiman acak dan bertingkat membuat daerah tersebut harus berjuang untuk mendapatkan air bersih.

Desa yang masyarakatnya sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani ini menggantungkan hidupnya dari mata air – mata air yang mengalir ke desa. Terdapat 4 sumber mata air yang terdapat di Desa Ngadiwono ini, yaitu Sumber mata air Ndase Banyu, Sentong, Pesung Tipis, dan Sumber Pucung. Ke empat sumber mata air tersebut terbagi menjadi beberapa titik tandon yang tersebar di Desa Ngadiwono.

Melalui dana desa, terdapat ± 20 titik tandon yang dialiri melalui pipa-pipa dari sumber mata air ke tandon-tandon yang telah dibuat. Dari tandon-tandon ini kemudian dibuat aliran melalui kran-kran yang ditempatkan di setiap RT, hal ini agar mudah untuk dijangkau oleh warga.

Bagi mereka yang memiliki kebutuhan cukup memilih untuk mengaliri air tersebut ke rumah mereka melalui pipa-pipa air yang dibeli dan dibuatnya secara mandiri. Namun, Tak banyak yang dapat merasakan air yang mengalir di setiap rumah pada umumnya, dikarenakan oleh terkendalanya biaya. Sehingga warga Desa Ngadiwono harus memikul jerigen-jerigen yang berisi air dari tandon ke rumah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dengan menggunakan jerigen berkapasitas sekitar 25 liter air, warga memikul jerigen tersebut ke rumah untuk kebutuhan rumah tangga seperti mandi, mencuci, memasak, dll, sumber irigasi sawah ataupun memberi minuman ternak mereka yang terletak di kawasan perbukitan. Melalui pengamatan serta Wawancara yang dilakukan Anggota Muda Diklatsar 41 IMPALA UB warga mengambil air dari tandon ataupun kran-kran yang terdapat di Desa Ngadiwono dalam sehari bolak-balik hingga empat kali.

“Biasanya warga di desa ini melakulan pengambilan air di tandon-tandon yang sudah ada dengan menggunakan jerigen-jerigen yang berukuran sekitar 25liter, dengan bolak-balik kurang lebih 4 kali dan biasanya digunakan untuk masak dan minum dalam 2 hari. Sedangkan untuk penyaluran irigasi sawah menggunakan pipanisasi yang Ada.” Ujar Ilham yang merupakan wakil dari karang taruna desa ngadiwono.

Letak ke empat sumber mata air yang terdapat di desa Ngadiwono ini berbeda-beda. Sumber air Ndase Banyu dan Sumber Pucung terletak didaerah perbukitan bagian atas desa, biasanya digunakan untuk keperluan sehari-hari, hal ini dikarenakan letaknya tak terlalu jauh dari rumah warga. Untuk mata air Pesung Tipis yang terletak di daerah bagian bawah desa digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti mandi, mencuci, memasak, dll, memberi minum ternak babi, maupun sumber irigasi sawah. Dan untuk sumber mata air Sentong, terletak jauh dari Desa Ngadiwono, dimana lokasi mata air ini berada diperbatasan desa sebelah yaitu, Desa Mororejo. Mata air Sentong digunakan warga sebagai sumber irigasi sawah namun tak jarang digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun warga memerlukan waktu ± 30 menit berjalan kaki untuk mengambil sumber mata air tersebut, atau biasanya warga menggunakan kendaraan bermotor untuk mempermudah pengambilan air.

Ke empat sumber mata air tersebut sampai saat ini masih menjadi salah satu tumpuan 600 kepala keluarga di Desa Ngadiwono untuk mendapatkan air bersih setiap harinya sehingga terus dijaga dan dibersihkan. Mereka berupaya untuk menanami kembali hutan yang dulu gundul dan saat ini ditanami pohon-pohon, hal ini sebagai bentuk pelestarian dari sumber mata air agar tetap terjaga. Dengan adanya pohon-pohon tersebut akan menyimpan air hujan yang turun dan memenuhi kembali serta menghidupkan kembali cadangan air di dalam tanah.

Suku Tengger yang sebagaian besar masyarakatnya beragama hindu, meskipun masih terdapat beberapa masyarakat yang beragama islam dan kristen, memiliki tradisi dan kebiasaan yang kuat dalam masyarakatnya. Masyarakat Tengger yang sangat menghormati keberadaan para leluhur pun melakukan sejumlah ritual sebagai ucapan rasa syukur atas sumber mata air yang melimpah di Desa Ngadiwono, untuk itu akan dijumpai tempat sesajen dan ritual yang berada didaerah sumber mata air, hal ini dipercayai sebagai bentuk untuk menghormati leluhur yang telah menjaga sumber mata air.

Warga Desa Ngadiwono berharap kran-kran yang tersedia disetiap RT berada pada rumah masing-masing warga. Sehingga tidak lagi mengambil air dan memikul jerigen untuk penampungan kebutuhan air di rumah. Hal ini berbagai upaya telah dilakukan desa sebagai bentuk mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah untuk dilakukannya pipanisasi bagi setiap rumah warga di Desa Ngadiwono ini.

 

Ditulis oleh Iska Anggraini (Anggota Muda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *