Wisata Religi Pantai Nganteb

Pantai Nganteb terletak di desa Tumpakrejo, kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Seperti pantai pada umunya, pantai di malang selatan memiliki ciri khas yang tersendiri, salah satunya memiliki ombak yang cukup besar. Dengan demikian sebagian besar pantai di Malang Selatan tidak diperbolehkan untuk berenang dipantai, tak terkecuali di Pantai Nganteb. Hal ini demi keamanan, kenyamanan, serta keselamatan pengunjung pantai.

 

Kata Nganteb, merupakan perpaduan dari kata Madep dan Manteb. Hal ini karena orang tua jaman dahulu kalau tidak singgah di pantai ini rasa nya kurang Manteb. Penduduk di Nganteb mayoritas  merupakan suku Jawa. Sementara, pantai nganteb ini salah satu pantai yang mempunyai nilai pariwisata cukup tinggi.

Pantai Nganteb memiliki selogan Pantai Religi yang dikarenakan cukup banyaknya tempat untuk melakukan ritual adat. Masyarakat Nganteb masih mempercayai adat istiadat dan leluhur nenek moyang sehingga sering disebut “Kejawen”.

Pendopo yang didalam nya terdapat Petilasan dan kentongan yang berbentuk seperti wajah Sunan Kalijaga

 

Tidak hanya pemandangan pantai, disini juga terdapat gunung yang dinamai Gunung Batok. Meskipun dibilang gunung, tapi tingginya tidak seperti gunung dan lebih menyerupai bukit. Di dekat gunung ini terdapat kentongan yang menyerupai manusia. Kentongan ini disebut menyerupai wajah Sunan Kalijaga dan diletakan di Pendopo yang sangat disucikan oleh masyarakat sekitar. Di bawah gunung batok ini juga terdapat goa yang sering dijadikan untuk tempat bertapa.

foto ini merupakan foto gunung batok. Tetapi ada masyarakat sekitar yang berkata bahwa ini merupakan petilasan yang digunakan pada saat ritual.

 

Biasanya masyarakat Nganteb melakukan ritual pada saat Satu Suro, Kupat Lepet dan pada saat tahun baru. Pada saat Satu Suro terdapat orang-orang yang melakukan ritual dan berdatangan ke Pantai Nganteb ini untuk melakukan ritual tersebut. Masyarakat setempat pada saat Satu Suro membuat tumpeng yang besar, dan terdapat juga buah buahan dan macam bunga.

Pada saat Satu Suro juga akan dilakukan sedekah bumi atau petik laut. Maksudnya ini memberikan sebagian hasil dari bumi yang sudah didapat masyarakat sekitar yang bermukim di pantai ini untuk para leluhurnya. Untuk sedekah bumi, biasanya berisi makanan, buah dan bunga akan dilarungkan ke laut dalam jumlah yang sedikit. Ketika akan melarungkan makanan tersebut, akan diiringi oleh tarian kuda lumping.

 

pendopo ini sering digunakan untuk acara ritual, pendopo ini sedang tahap pembuatan

 

Tarian kuda lumping ini merupakan kesenian khas yang terdapat di Pantai Nganteb. Ada yang berbeda dari tarian kuda lumping dipantai ini, kuda lumping disini tidak memakan beling melainkan memakan bunga dan memakan singkong mentah.

Pada saat Satu suro, tumpeng yang besar akan diangkat ke pendopo yang di dalamnya terdapat petilasan dan kentongan. Biasanya kentongan akan di pukul sebanyak 3 kali.

kentongan yang berbentuk wajah sunan kalijaga, yang biasa di pukul pada saat ritual

Kentongan ini mempunya cerita yang unik, awal mulanya dibuat seperti kentongan biasanya, tetapi pada saat membuat kentongan ini, sang pembuat mendapat mimpi gambar wajah sunan kalijaga, dan akhirnya kentongan ini pun dibuat menyerupai wajah sunan kalijaga. Kentongan ini awalnya diletakan di bawah pohon di dekat pantai. Tetapi, karena salah satu warga asli Pantai Nganteb yang memukul kentongan, dan mungkin terlalu kuat, akhirnya mengakibatkan hidung dari wajah Sunan Kalijaga patah. Disebutakn warga tersebut mendapat kutukan, yaitu menjadi gila dan sampai akhirnya ia meninggal. Dari situ lah warga sekitar menganggap bahwa didalam kentongan terdapat nyoni atau mahkluk gaib. Oleh karena itu, kentongan ini dilekatan di dalam pendopo, agar tidak ada yang memukulnya sembarangan.

Kejawen secara pengertian berarti sebuah kepercayaan yang dianut oleh masyarakat di pulau jawa. Ritual-ritual yang dilakukan sepertinya hal-nya ritual satu suro merupakan adat istiadat yang patut kita aspresiasi, ritual tersebut tidak lain hanya sebagai bentuk rasa syukur mereka terhadap penciptanya atas limpahan berkah yang sudah diterima. Sebuah kata bijak mengatakan, “tanpa manusia, budaya tidak ada, namun lebih penting dari itu, tanpa budaya, manusia tidak akan ada”. Maka dari itu Berikan senyum untuk Indonesai, dan tunjukan perbedaan adalah perekat yang kuat untuk persatuan Indonesia, dan biarkan pelangi Nusantara terus memberikan warna-warna indah

 

Penulis : Audrey Wia S. (Anggota Muda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *