Perjalanan ke Tebing Sepikul

 

Tebing Sepikul yang terletak di desa Watuagung, kecamatan Watulimo, kabupaten Trenggalek merupakan tebing tertinggi yang ada di Jawa Timur. Pengalaman baru bagi saya bisa memanjat di tebing dengan tipe batuan andesit. Selama ini saya hanya memanjat di tebing dengan tipe batuan karst.

Tidak mudah untuk menuju ke tebing Sepikul. Saya dan tim harus menyetir selama 5 jam lamanya dengan mengendarai sepeda motor, kebetulan saat itu kami berangkat mulai petang sehingga harus merasakan gelap dan dinginnya suasana jalan. Kami sempat tersesat saat akan menuju basecamp.. Beberapa kali berputar di tempat yang itu-itu saja, dan tidak terlihat ada warga yang bisa kami tanyai arah karena saat itu malam sudah sangat larut dengan kondisi jalanan yang sepi. Hampir 90 menit kami tersesat, akhirnya ada seorang pengendara sepeda motor yang lewat dan kami pun menghampirinya. Beliau pun memberi arahan jalan yang harus kami lewati dan bertemulah kami dengan basecamp tempat kami akan beristirahat.

Di pagi hari saat mendongak keluar jendela, pemandangan yang sangat indah dipamerkan Sepikul. Ia tampak anggun dengan perhiasannya yang berkilau dan berdiri dengan gagahnya layaknya seorang Raja yang berada di tahtan kerajaan. Kami bergegas menuju start pemanjatan. Hal pertama kali yang saya lakukan adalah meraba batuan tebing yang gagah. Sempat belum percaya bahwasanya saya sedang berada di kaki Sepikul yang besar dan hangat ini.

Kami melakukan flying camp di hari kedua pemanjatan. Matahari kembali ke peraduannya berganti bulan yang memancarkan sinarnya. Tidak mau kalah dengan bulan, bintang-bintang pun muncul satu per satu memamerkan keindahannya. Pemandangan yang tampak dari tebing dipenuhi dengan kerlap-kerlip cahaya di langit dan cahaya dari lampu rumah warga. Kami juga ditemani dengan bisikan angin yang seakan-akan mengucapkan selamat datang.

Setelah semalaman ditemani dengan sahabat malam, sekarang berganti matahari secara perlahan muncul dari balik bukit di sebelah adik Sepikul yaitu Tanggul. View yang diberikan tidak kalah dengan yang ada di Penanjakan Bromo dan matahari terbit dari bukit Telettubis yang ada di Ranu Kumbolo. Inilah salah satu alasan yang membuat para pemanjat selalu ingin kembali lagi ke Sepikul yang menjadi pasangan mereka.

 

[Astari Sitompul (Anggota Muda)]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *