Tanggung Jawab Besar Sang Penjaga Entrance

Gua memang selalu menyimpan misteri yang selalu menarik untuk dieksplorasi. Tak heran jika saat ini telusur gua adalah salah satu kegiatan alam bebas yang banyak diminati. Walaupun sebenarnya jika dilihat dari segi keselamatan, telusur gua memiliki resiko yang sangat berbahaya. Tapi bukankah setiap kegiatan yang dilakukan pasti ada risikonya? Maka dari itu, untuk alasan apapun jangan pernah lakukan kegiatan telusur gua sendirian. Manusia tidak bisa meniadakan risiko, yang ada hanyalah meminimalisir sebuah resiko agar tidak menjadi besar. Untuk itu jangan lelah untuk membekali diri dengan ilmu sebelum berkegiatan di alam bebas dan perbanyaklah jam terbang untuk latihan-latihan. Sebab menjadi seseorang yang mahir sekalipun tak bisa didapatkan dengan waktu yang singkat.

Pada tanggal 7-8 April 2018 lalu telah dilaksanakan kegiatan Orientasi Lanjutan II Caving AMED 41 IMPALA UB yang bertempat di Gua Pleset-Kirik, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu diikuti oleh tujuh orang anggota.  Dalam kegiatan telusur gua tersebut terbagi menjadi dua tim yaitu tim yang masuk ke gua yang sering disebut sebagai tim penelusur/explorer dan tim yang berjaga di mulut gua atau disebut sebagai penjaga entrance. Sebelum turun ke dalam gua, tim explorer akan membuat rigging atau jalur yang akan dituruni dengan teknik Single Rope Technique (SRT) untuk memasuki gua vertical dan melakukan simulasi rescue.

Pada kesempatan ini akan lebih menyorot pada peran dan tanggung jawab besar yang harus diemban oleh seorang penjaga entrance. Barangkali sobat petualang menganggap seorang penjaga entrance itu mudah dan tidak penting. Jangan salah sangka dulu. Tapi sebelum membahas lebih jauh, sudahkah sobat petualang tahu apa yang dilakukan penjaga entrance? Penjaga entrance adalah orang yang berjaga di mulut gua, berperan sebagai pengamat kondisi cuaca dan sebagai rescuer apabila terjadi trouble. Setidaknya minimal ada dua orang penjaga entrance dalam telusur gua.

Apabila terjadi trouble maka orang pertama bertugas masuk ke dalam gua membantu tim explorer keluar dari masalah tersebut atau dapat juga untuk membuat instalasi rescue untuk howling korban dan orang kedua bertugas mencari bantuan masyarakat sekitar. Karenanya, seorang diantara penjaga entrace harus paham materi modifikasi rigging terutama yang digunakan untuk rescue. Penjaga entrance dituntut pula harus dapat memperhatikan perubahan lingkungan dan potensi bahaya di sekitar. Misalnya cuaca akan turun hujan atau tidak, potensi bahaya seperti gua yang berada di jalur air kemungkinan bisa terkena air kiriman, potensi runtuh atau longsor dan lainnya.

Maka, penjaga entrance harus tahu bagaimana penanganan apabila hal buruk tersebut terjadi. Kondisi di lapangan memang tidak bisa ditebak, seringkali dapat berubah sangat drastis. Pada prinsipnya, keselamatan tim explorer juga bergantung pada penjaga entrance sehingga komunikasi antaranggota sangatlah penting. Lalu masihkah sobat petualang menganggap kalau tugas penjaga entrance itu ringan? Berhentilah meremehkan karena seorang penjaga entrance memiliki tanggungjawab yang sangat besar. Mereka bukanlah orang yang sembarangan dipilih, pastilah mereka telah menguasai segala materi teknik caving dari penelusuran hingga rescuenya. Sebab amanah tak akan salah memilih pundak.

[Nian Nur Wahyudi (Anggota Muda)]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *