Dusun Brau, Dari Susu Hingga Energi Terbaru

Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji merupakan sebuah tempat kecil dengan masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai peternak sapi perah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.  Sapi perah dipilih karena lebih cepat menghasilkan untung dengan perputaran uang yang lebih cepat. Terdapat kurang lebih 170 ekor sapi di dusun ini. Salah satu warga yang sukses berternak sapi perah hingga saat ini adalah Wahono. Wahono memulai usaha sapi perah sejak tahun 1985. Dengan modal saat itu hanya seekor sapi, dan kini sudah mencapai 25 ekor. Pemerahan susu sapi dilakukan setiap hari, 2 kali dalam sehari yakni di pagi dan sore hari. Pemerahan masih dilakukan secara manual. Setiap satu ekor menghasilkan kurang lebih 17 L per harinya. Sistem pemerahan yang berbeda digunakan oleh Boby, seorang peternak sapi perah lain yang memilih menggunakan cara pemerasan semi modern dimana sebagian menggunakan mesin dan sebagiannya masih manual. Mesin dinilai lebih efisien dan lebih mempersingkat waktu, selain itu kualitas kehigenisan susu sapi yang dihasilkan juga lebih tinggi. Namun sayang, mayoritas susu yang dijual masih dalam keadaan mentah dan murni sehingga harga jualnya pun terbilang rendah. Sebenarnya sudah banyak olahan susu yang dibuat oleh warga namun pemasaran masih sulit dilakukan, walhasil inovasi itupun berhenti di tengah jalan. Pengurusan izin penjualan ke dinas terkait yang tak kunjung menemukan kejelasan disinyalir merupakan penghambat pemasaran produk warga. Variasi olahan susu yang sudah dibuat oleh antara lain Stick susu, Dodol susu, dan Yogurt susu dan masih banyak lagi.

Dengan banyaknya sapi, otomatis jumlah kotoran yang dihasilkan juga semakin banyak, bahkan sampai berserakan di jalan desa. Berangkat dari kondisi tersebut, Bu Yuli, seorang aktivis lingkungan yang juga merupakan Anggota Kehormatan IMPALA UB bersama beberapa kawan menggagas pembuatan biogas. Selain manghasilkan gas untuk memasak, juga dihasilkan produk sampingan berupa bioslurry sebagai pupuk tanaman. Adapun keuntungan dari pemanfaatan kotoran sebagai biogas yaitu lebih hemat, gas tidak berpotensi meledak, dan secara otomatis mengurangi pencemaran lingkungan. Pembuatan biogas sendiri cukup mudah, dimana kotoran di mixer dengan air dengan perbandingan 1:1 dan tidak boleh ada kontaminasi air sabun karena dapat mematikan bakteri. Setelah kotoran halus, kemudian dialirkan ke bak penampungan bawah tanah, kotoran difermentasi selama kurang lebih seminggu, kemudian gas yang dihasilkan dialirkan ke kompor melalui pipa dan endapan yang dihasilkan itulah yang dinamakan dengan Bioslurry. Sayangnya tidak banyak warga yang memasang instalasi biogas karena selain biaya awal pemasangan yang cukup tinggi, dalam penjalanannya pun juga memerlukan perawatan khusus. Dari 70 kepala keluarga di Dusun Brau hanya 20 kepala keluarga yang memanfaatkan kotoran sapi nya sebagai biogas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *