Traditional Climbing

Traditional Climbing adalah suatu -pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor petualangan.- (suatu teknik pemanjatan yang dilakukan pada tebing yang tidak memiliki pengaman buatan) Pada teknik pemanjatan ini, dinding tebing bersih dari hanger, tidak ada pengaman buatan yang dipasang pada dinding. Pemanjatan biasanya dilakukan oleh dua orang. Climber (pemanjat ) harus membawa alat pengaman sendiri dan memasangnya pada saat memanjat. Ketika tali sudah hampir habis leader (pemanjat pertama) membuat stasiun elay untuk mengamankan climber (pemanjat) kedua. Climber (pemanjat) yang sebelumnya membelay (mengamankan) pemanjat pertama mulai memanjat tebing dan membersihkan (mengambil kembali) alat pengaman yang dipasang di dinding tebing oleh pemanjat pertama.

Secara umum peralatan pada traditonal climbing sama dengan sport climbing, perbedaannya adalah pada alat pengaman yang akan dipasang di sepanjang jalur. Jika pada sport climbing pemanjat hanya membawa runner sebagai pengaman yang akan dipasang pada hanger yang sudah dipasang sebelumnya disepanjang jalur, pada traditional climbing tidak hanya runner tapi ada berbagai jenis alat pengaman lain yang harus dibawa tergantung kondisi jalur yang akan dipanjat.

Friend, piton, hexentrix, skyhook, dan bong adalah sebagian jenis-jenis peralatan yang dipakai dalam pemanjatan tradisional (traditional climbing). Peralatan tersebut terdiri dari berbagai jenis dan uk tergantung kebutuhan saat memanjat. Pada umumnya semua peralatan tersebut dipasang di crack (retakan atau celah – celah tebing) di sepanjang jalur pengganti hanger pada pemanjatan sport climbing. Karena terdapat banyak bentuk celah di celah vertical atau horizontal sepanjang jalur pemanjatan dari berukuran kecil sampai celah atau rekahan yang berukuran besar di tebing. Maka wajar banyak pula jenis alat pengaman yang ada dalam traditional climbing ini. Semua peralatan tersebut harus benar-benar dikuasai penggunaannya dan dipakai sesuai dengan fungsinya. Jumlah dan jenis alat pengaman yang dibawa disesuaikan dengan karakter kebutuhan jalur yang akan dipanjat.

Selain peralatan diatas, webbing juga termasuk yang paling banyak digunakan. Webbing bisa dipasangkan ditonjolan/tanduk pada tebing atau lilit pada batang pohon yang ditemukan pada jalur pemanjatan dan digunakan sebagai pengaman.

[Lius A. (NIM. 2017611/IMP)]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *