SENYUM ABADI SI CANTIK YANG LANGKA DARI TNBTS

Siapa yang tidak mengenal flora bertajuk bunga abadi, Edelweiss Jawa (Anaphalis javanica). Tumbuhan berbunga indah tersebut merupakan tanaman endemik zona alpina atau montana yang bisa dijumpai di beberapa pegunungan Indonesia. Edelweiss hanya dapat tumbuh dengan baik di ketinggian antara 1.700 hingga 3.000 mdpl. Namun, bukan berarti Edelweiss dapat tumbuh di semua gunung yang ada di Indonesia. Di Pulau Jawa, hanya beberapa gunung saja yang menjadi habitat Edelweiss, salah satunya adalah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur.

Edelweiss Jawa (Anaphalis javanica) sangat dilindungi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Langkah Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) sangatlah tepat, mengingat nasib Edelweiss Jawa saat ini sedang berada di ujung kepunahan. Populasi Edelweiss Jawa di TNBTS tiap tahun semakin mengalami penurunan yang signifikan. Saat ini hanya tersisa sekitar 30 persen lahan Edelweiss Jawa yang tersebar di beberapa spot TNBTS seperti Kalimati, Arcopodo dan Cemoro Lawang.

Populasi Edelweiss yang semakin berkurang tersebut merupakan buah dari tangan-tangan jahil beberapa pihak. Seperti ulah dari pendaki bandel yang memetik bunga Edelweiss Jawa, pembukaan lahan untuk pertanian oleh warga sehingga habitat Edelweiss Jawa menyempit, dipetik oleh masyarakat sekitar untuk diperdagangkan, hingga dipetik masyarakat sekitar yang merupakan Suku Tengger untuk dijadikan sesajen dalam upacara keagamaan yakni Upacara Kasada. Dimana masyarakat Suku Tengger menyajikan sesajen berupa bermacam-macam bunga, dengan Edelweiss sebagai bunga dengan nilai dan makna terbesar bagi mereka.

Faktor lain selain penggunaan Edelweiss Jawa untuk upacara adat, mungkin masih bisa diatasi. Namun, tidak mudah memang bahkan hampir mustahil untuk mengubah suatu tradisi yang sudah melekat erat di masyarakat Suku Tengger, apalagi hal tersebut berkaitan dengan keagamaan. Pihak TNBTS tentu tidak bisa melarang hal tersebut, tetapi bukan berarti mereka hilang akal. Budidaya Edelweiss Jawa pun dicanangkan oleh pihak TNBTS sejak tahun 2006. Namun, rencana tersebut berhasil direalisasikan pada tahun 2014, dimana bibit Edelweiss Jawa berhasil tumbuh dari semaian biji di beberapa sekolah di sekitar Cemoro Lawang. Hal tersebut tidaklah mudah, mengingat Edelweiss sangat sulit untuk tumbuh di luar kawasan konservasi.

Upaya BBTNBTS untuk melestarikan Edelweiss Jawa tidak berhenti sampai disitu. Desa Wisata Edelweiss pun digagas, dengan memproyeksikan 4 desa, yakni Desa Ngadisari Kabupaten Probolinggo, Wonokitri Kabupaten Pasuruan, Desa Ngadas Kabupaten Malang, dan Ranupani Kabupaten Lumajang. Rencananya, desa wisata tersebut akan dikelola oleh masyarakat Suku Tengger dan menjadi wahana edukasi mengenai Edelweiss Jawa.

Penulis : Yusi Jaya Masdiana (Anggota Muda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *