TIM EKSPEDISI ELBRUS IMPALA UB TELAH BERANGKAT MENUJU RUSSIA HARI INI

Ekspedisi seven summit memang tengah naik daun di dunia kepencitaalaman. Bagaimana tidak, maraknya ekspedisi seven summits yang dilakukan pencinta alam Indonesia menunjukkan makin tinggi pula kemampuan managerial kegiatan mereka, sehingga menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi kelompok Pencinta Alam yang melakukannya.

Setelah 22 tahun tidak terfokus pada pendakian gunung-gunung seven summits, pada tahun 2017 ini IMPALA UB kembali melanjutkan ekspedisi yang sempat terhenti sejak tahun 1995 silam. Sebelum ekspedisi Elbrus ini, kelompok mahasiswa pencinta alam Universitas Brawijaya ini telah mendaki Cartenz Pyramid di tahun 1986 dan 1995.

Setelah persiapan selama hampir dua tahun, akhirnya kegiatan bertajuk BRI-Brawijaya Elbrus Expedition 2017 ini berangkat ke Russia pada hari ini, tanggal 9 Agustus 2017 diantar Anggota IMPALA UB yang lain di Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Selama dua tahun, persiapan yang dilakukan tidak hanya persiapan fisik bagi atlet, melainkan juga persiapan mental, pertolongan pertama gawat darurat dan penyakit ketinggian, bahasa, jurnalistik serta dokumentasi kegiatan. Berbagai pihak yang berkompeten di bidangnya juga telah dirangkul untuk menunjang persiapan para delegasi.

Tim ini direncanakan tiba di Moscow, Russia, pada 11 Agustus mendatang, dan akan langsung melakukan penerbangan domestik menuju basecamp Taman Nasional Elbrus di Terskol, Kabardino-Balkariya, South Russia. Pendakian direncanakan dimulai tanggal 12 Agustus dengan aklimatisasi terlebih dahulu di Mt. Cheget yang juga berlokasi di Taman Nasional.

Aklimatisasi yaitu proses yang dilakukan untuk membiasakan diri dengan iklim dan kondisi sekitar. Salah satu yang membedakan pendakian gunung salju dengan gunung tropis yaitu proses pendakian harus konstan dengan kecepatan relatif rendah. Pendakian dilakukan setinggi-tingginya, namun camp diletakkan serendah-rendahnya. Hal ini yang membuat pendakian memakan waktu yang lama, karena pendaki diharuskan melakukan pendakian bolak-balik dari ketinggian tertentu ke ketinggian yang lain.

“Salah satu kesulitan mempersiapkan ekspedisi ini yaitu tidak adanya lokasi yang terjangkau di Indonesia yang dapat digunakan untuk mempersiapkan fisik selama proses latihan. Satu-satunya gunung yang juga masuk dalam kategori Seven Summits di Indonesia yakni Cartenz Pyramid masih sulit dijangkau dari segi akomodasi,” ujar Gede Krisna,salah satu atlet yang akan berangkat.

Rencananya 3 orang delegasi IMPALA UB akan mengibarkan sang saka merah putih di puncak 5642 mdpl itu pada 16 Agustus mendatang. Ketiga delegasi ini yaitu Gede Krisna Adiwiradarma, Ahmad Sholahuddin Yazid, dan Endah Purwaningtyas Hadipranoto. Selain bendera merah putih, di puncak Elbrus tim ini juga akan membawa kerajinan topeng Malang.

Setelah ekspedisi ini, IMPALA UB juga akan melanjutkan ekspedisi ke puncak-puncak lain yang belum dicapai di jajaran seven summits, diantaranya Kilimanjaro, Aconcagua, Denali, Vinson Massif, dan Everest, dan akan membawa nama Kota Malang di kancah ekspedisi Seven Summits untuk pertama kali.

Bp Rektor Universitas Brawijaya Dr. Ir. Mohammad Bisri, M.S. berpesan saat melepas keberangkatan tim, “Kalian tidak hanya membawa nama almamater dan juga nama kota Malang, melainkan nama Indonesia. Jadi harus hati-hati dan menjalankan semua prosedur yang dipersiapkan selama latihan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *